Selasa, 29 Januari 2013

PSIKOLINGUISTIK


JAWABAN SOAL PENDALAMAN SEMESTER
MATA KULIAH PSIKOLINGUISTIK
1.      ‘Lengking serunai mengiris hatinya’
            ‘Lengking seruling mengiris hatinya’
Berdasarkan teori penyimpanan kata, kalimat mana yang membutuhkan waktu pemahaman lebih singkat? Mengapa?
Jawab:
Berdasarkan teori penyimpanan kata, kalimat yang membutuhkan waktu pemahaman lebih singkat yaitu pada kalimat “ lengking seruling mengiris hatinya”. Hal tersebut disebabkan oleh:
a.    Keseringan dalam pemakaian
Pada dasarnya, suatu kata akan mudah diretrif apabila kata itu sering dipakai. Kata seruling lebih sering dipakai daripada serunai.
b.    Pemakaian kata yang konkret umumnya lebih mudah diretrif daripada kata yang abstrak.
c.    Faktor keterkaitan semantik
Yaitu penyimpanan  kata yang mengelompokkan kata dalam satu medan semantik yang sama. Seperti, orang menyebutkan kata jeruk untuk mangga, anggur untuk duku. Kata –kata di atas termasuk dalam satu medan semantik yang sama yaitu buah-buahan. Karena adanya faktor tersebut sehingga kemampuan untuk meretrif kata lebih mudah.( Soenjono,2003: 169- 171)
2.      Baca baik-baik definisi Alan Garnham tentang psikolinguistik. Ada kalimat ‘...to make it possible for people to use language.’Apa maksud to use language di sini? Apa bedanya dari to use language dalam sosiolinguistik?
Jawab:
Maksud dari Alan Garnham tentang definisi psikolinguistik pada kalimat “... to make it possible for people to use language”.
To use language maksudnya penggunaan bahasa dalam aspek abstrak. Yaitu mempelajari proses-proses yang harus dilalui manusia ketika menggunakan bahasa meliputi komprehensi ( proses-proses mental yang harus dilalui manusia sehingga dapat menangkap dan memahami apa yang di katakan orang), produksi( proses-proses mental yang membuat diri kita mampu berujar seperti yang kita ujarkan), landasan biologi dan neurologi, serta pemerolehan bahasa.( Soenjono, 2003: 7)
Namun berbeda dengan maksud to use language dalam sosiolinguistik yaitu penggunaan bahasa dalam aspek konkret. Bahasa digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi, alat untuk berintegrasi, alat untuk kontrol sosial ( usaha untuk mempengaruhi tingkah laku dan tindak tanduk orang lain, alat menyatakan ekspresi.( Komposisi,1997:3)
3.      Salah satu contoh mempermudah retrieval adalah keterkaitan semantik. Ini dapat dijelaskan dengan model spreading activation network.
a.    Apa yang dimaksud dengan retrieval kata?
b.    Buatlah contoh menurut model tersebut  untuk kata ‘kamus’
Jawab:
a.    Retrival kata yaitu proses menangkap apa yang di dengar dengan  mengingat kembali, mengkonsep, mengkaitkan kata dengan kata serta menimbulkan keterkaitan antara keduanya.Keterkaitan tersebut disebabkan keterkaitan semantik, persamaan pada awal atau akhir suku kata dll. Misal, kita mendengar kata “ hujan” maka secara otomatis mengkaitkan dengan payung, mendung, banjir, air dan sebagainya.


 

b.     






( Soenjono, 2003: 187-188)
4.      Jelaskan perbedaan antara slip of the tounge dan tip of the tounge. Agar lebih jelas berilah contoh!
Jawab:
a.    Slip of the tounge ( kilir lidah) adalah suatu fenomena dalam produksi ujaran dimana pembicara “ terkilir” lidahnya sehingga kata-kata yang di produksi bukanlah kata yang ia maksudkan.Contoh: paris menjadi baris, komodo menjadi kodomo, variasi menjadi pariasi, macam menjadi macan, bekerja menjadi berkerja, sasana menjadi sanana, basar menjadi bazar, tinggal menjadi tingal, tanggungjawab menjadi tangungjawab, problematika menjadi ploblematika, bersama menjadi bermasa, duku menjadi kudu, dan lain-lain.( Soenjono,2003: 147-153)
b.    Tip of the tounge ( lupa-lupa ingat) adalah suatu fenomena dalam produksi ujaran dimana pembicara tidak ingat sepenuhnya akan suatu kata disebabkan suatu kata tersebut mungkin sudah lama tidak terpakai, akan tetapi dia tidak lupa benar kata-kata itu. Misal, di awali dengan kata “ e..., tadi anu..., itu loe...., si...
Ø  Tadi si anu...pergi dengan temannya.
Ø  Itu loe...binatang kesukaannya
Ø  Itu si siapa yang datang kesini
Ø  Kemarin ibu beli e...e...bersama adik
Ø  Saya mau cari apa itu
( Soenjono, 2003:144-145)
5.      Apa yang anda ketahui tentang leksikon mental dan sistem penyimpanannya?
Jawab:
Leksikon mental yaitu kamus mental yang di dalamnya terdapat sistem yang memungkinkan kita untuk meretrif kembali kata-kata secara cepat. Penyusunannya pun tidak hanya berdasarkan kesamaan bunyi di awal, tengah, maupun akhirsaja tetapi juga berdasarkan keterkaitan medan semantiknya.( Soenjono, 2003: 162)
Sistem penyimpanan sebagai berikut:
Mereka berpandangan bahwa kata di simpan bukan berdasarkan kata tetapi berdasarkan morfem. Jadi semisal kita hanya menyimpan kata “ bawa”. Afiks meN-, ke-, -kan, -i, dan –an di simpan secara sendiri, sehingga penerapannya di sesuaikan dengan persyaratan. Argumen untuk mendukung teori di atas yaitu pertama, bahwa penyimpanan seperti ini lebih hemat, jadi hanya mencampur morfem utama dengan afiks yang relevan. Argumen kedua adalah bahwa waktu yang diperlukan untuk meretrif kata multi-morfemik lebih lama daripada yang bermorfem satu. Argumen yang ketiga adalah datang dari kilir lidah. Bahwa kenyataan orang terkilir lidah salah satunya disebabkan oleh morfem terikat yang tersimpan sendiri.( Soenjono, 2003: 166-168)
6. Bedakan penelitian bahasa jenis observasi dengan jenis eksperimen. Beri masing-masing contohnya dengan sikon Indonesia!
Jawab:
          Penelitian bahasa jenis observasi adalah penelitian bahasa dengan hanya sebatas mengamati ( melibatkan indera penglihatan, pendengaran) perkembangan bahasa sampai titik yang dikahendaki peneliti. Adapun tujuannya yaitu untuk mengetahui perkembangan bahasa tersebut. Misal, seorang ibu yang mengamati perkembangan bahasa anaknya dari usia 1 tahun sampai 5 tahun. Dan setiap tahunnya mengalami perkembangan yang nantinya bisa ditarik suatu kesimpulan.
          Sedangkan penelitian bahasa jenis eksperimen adalah penelitian bahasa melibatkan banyak indera di dalamnya ( pendengaran, penglihatan, perasa) dan pengalaman dengan tujuan untuk  mengetahui jawaban dari suatu permasalahan. Misal, apakah ujaran ibu pada anak berbeda dengan ujaran ayah pada anak? ( lalu perlu eksperimen untuk mengetahui jawaban dari permasalahan tersebut). Tidak hanya mengamati, dan menyimpulkan tetapi juga menganalisis, mengakaitkan serta membuat konsep baru.(Soenjono, 2003: 228-229)
7. Kilir lidah yang sering terjadi memberi petunjuk bahwa ada sistem penyimpanan dalam kamus mental. Berilah satu contoh kilir lidah dalam bahasa Indonesia ( yang mungkin terjadi) dan jelaskan satu sistem penyimpanan terkait.
( jangan mengutip contoh dari buku Soejono)
Jawab:
Misal:
a.       Tolong nanti beli sawi, maksud saya seledri, ya ( sawi dengan seledri masih satu kelompok sayuran).
b.      Tadi ayah beli kursi, eh salah maksud saya almari ( kursi dengan almari masih satu kelompok perabot rumah tangga).
c.       Tolong ambilkan pensil, eh salah maksud saya pena di situ ( pensil dengan pena masih satu kelompok peralatan sekolah)
d.      Cucikan panci di bawah, eh salah maksud saya baskom ( panci dengan baskom masih satu kelompok perabot rumah tangga)
Keempat contoh di awal merupakan kilir lidah yang disebakan oleh kekeliruan seleksi tetapi masih dalam satu medan semantik.( Soenjono, 2003:144-145)
8.      Faktor yang mempengaruhi penyimpanan kata antara lain frekuensi penggunaan. Dalam belajar bahasa asing dikenal metode drill / tubian. Jelaskanlah kaitan antara teori penyimpanan kata tersebut dengan metode drill.
Jawab:
            Metode drill merupakan salah satu metode belajar bahasa dimana menitik beratkan pada kebiasaan atau tubian dalam menggunakan bahasa. Jika proses penyimpanan kata dilakukan secara tubian atau drill secara otomatis hasil penyimpanan berjalan maksimal. Karena belajar bahasa harus dilakukan secara tubian tidak langsung instant melainkan membutuhkan proses yang tidak lama.( Soejono, 2003: 235)
9.      Sepengetahuan anda pemerolehan bahasa secara nurture tidak akan berhasil baik sesudah usia berapa? ( walaupun anak mempunyai LAD), mengapa demikian?
Jawab:
            Menurut saya pemerolehan bahasa secara nuture tidak akan berhasil baik sesudah usia antara 13 sampai 14 tahun. Misal, terdapat anak perempuan di Los Angeles, California yang sebagai objek penelitian namanya Ginie ( Curtiss 1977). Ginie yang ditemukan tahun 1970, disekap oleh orang tuanya dalam kamar yang kecil di gudang belakang rumah selama 13 tahun. Dia di beri makan tetapi tidak pernah di ajak bicara. Ayahnya, yang benci anak dan suara anak, sering menyiksanya sementara ibunya tidak mampu berbuat apa pun. Setelah ditemukan dan kemudian dilatih berbahasa selama delapan tahun. Ginie tetap saja tidak dapat berbahasa seperti manusia lainnya.( Soenjono, 2003: 237)
Dari fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa pemerolehan bahasa harus dilakukan usia 1-14 tahun. Hal tersebut disebabkan bahasa diperoleh secara bertahap dan tubian artinya harus ada keseringan. Saat usia tersebut memori anak untuk menangkap dan menyimpan bahasa lebih besar. Meskipun anak telah memiliki LAD, tetapi jika sudah usia 14 tahun tidak pernah di latih akan menyebabkan LAD tidak berfungsi dengan baik.
10.  Bahasa dna pikiran itu saling terkait. Banyak ahli yang menyetujui hal itu. Bagaimana menurut pendapat anda, berikan bukti untuk mendukung teori anda!
Jawab:
            Menurut saya benar bahwa bahasa dan pikiran saling terkait. Sewaktu kita berbahasa tidak lepas dari pikiran. Berbahasa yang baik harus menggunakan pikiran saat berujar agar pendengar mampu menangkap pembicaraan. Misal, saat kita sedang KBM, kemudian guru menanyakan, “apakah pengertian psikolinguistik menurut anda?” lalu siswa menjawab “ psikolinguistik adalah kajian ilmu yang mempelajari proses-proses mental yang dilalui oleh manusia saat berujar. Saat menjawab pertanyaan dari guru, siswa harus menggunakan pikiran, mengolah kata, merangkai struktur kalimat sehingga kalimat tersebut logis dan mudah di pahami.( Soenjono, 2003: 282-283)


NB:
Saya akan menjadi guru bahasa dan sastra indonesia yang baik sehingga saya tidak berbuat curang.
                                                                                    Tertanda,
                                                                                    Semarang, 3 Januari 2011

                                                                                                Endhi Pujiana
















JAWABAN SOAL PENDALAMAN SEMESTER
MATA KULIAH PSIKOLINGISTIK
Dosen: Arizul Ulumudin, S.Pd, M.Pd




Disusun oleh:
Nama   : Endhi Pujiana
Npm    : 09410160
Kelas   : 5D


JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
IKIP PGRI SEMARANG
2011

hakekat bahasa


  1. Pengertian bahasa
Apa itu bahasa ? Untuk menjawab pertanyaan  tersebut, ada baiknnya jika kita memperhatikan beberapa  pengertian bahasa tersebut berdasarkan  pengertian umum dengan melihat kamus umum,  sebagai istilah linguistik dengan melihat kamus linguistik,  dan menyimak aneka pendapat para ahli dari latar belakang yang berbeda.
Dalam kamus umum, dalam hal ini Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 1990: 66) bahasa diartikan sebagai  sistem lambang bunyi  berartikulasi  yang bersifat sewenang-wenang dan konvensional  yang dipakai sebagai alat komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran.
Kamus Webster mendefinisikan bahasa sebagai A systematic  means of communication ideas or feeling by the use of communication sign, sounds, gestures, or mark having understood meanings.
Dari dua makna umum tentang bahasa di atas,  ada persamaan yang jelas. Persamaan itu adalah bahwa bahasa ditempatkan sebagai alat komunikasi  antar manusia untuk mengungkapkan pikiran atau perasaan dengan menggunakan simbol-simbol komunikasi baik yang berupa suara, gestur (sikap badan), atau tanda-tanda berupa tulisan.
Sebagai sebuah istilah dalam linguistik, Kridalaksana (1993:21) mengartikannya sebagai sebuah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat  untuk bekerja sama, berinteraksi,  dan mengidentifikasikan diri. Pei dan Gaynor (1975:119) mengatakan bahwa bahasa adalah A system of communication by sound, i.e., through the organs of speech and hearing, among human beings of certain group or community, using vocal symbols possessing arbitrary conventional meaning.
Dari pandangan ahli linguistik seperti Kridalaksana, Pei, dan Gaynor di atas, bahasa ditekankan sebagai sebuah sistem lambang. Istilah sistem  mengandung makna adanya keteraturan dan adanya unsur-unsur pembentuk.
Jalaludin Rakhmat (1992:269), seorang pakar komunikasi, melihat bahasa dari dua sisi yaitu sisi formal dan fungsional.  Secara formal,  bahasa diartikan sebagai semua kalimat yang terbayangkan, yang dibuat menurut tatabahasa. Sedangkan secara fungsional, bahasa diartikan  sebagai alat yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan gagasan.  Definisi yang diajukan Rakhmat ini tampak mencoba  merangkum pengertian umum dengan pendapat linguis.  Istilah sisi formal yang dikemukakan  Rakhmat mirip dengan istilah sistem, sedangkan sisi fungsional  sejalan dengan bahasa sebagai alat komunikasi. 
Pemahaman bahwa bahasa sebagai alat komunikasi, juga didukung oleh seorang sosiolinguis  bernama Ronald Wardhaugh. Ia menyatakan bahwa bahasa adalah A System of aribtrary vocal symbols used for human communication
Penggambaran yang lebih luas tentang bahasa pernah disampaikan oleh bapak linguistik modern, Ferdinan de Saussure. Ia  menjelaskan bahasa dengan menggunakan tiga istilah  yaitu langage, Langue, dan parole. Ketiga istilah dari bahasa Prancis itu dalam bahasa Indonesia dipadankan dengan satu istilah saja yaitu ‘bahasa’.  Langage  adalah sistem lambang bunyi yang digunakan untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara verbal. Langage ini bersifat abstrak.  Istilah langue mengacu pada sistem lambang bunyi tertentu yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat tertentu. Sedangkan parole adalah bentuk konkret langue yang digunakan dalam bentuk ujaran atau tuturan oleh anggota masyarakat dengan sesamanya (Chaer, 1995:39-40;  Chambers, 95:25; Verhaar,81:1).
Definisi lain tentang bahasa, antara lain bisa kita dapat dari Finochiaro. Meskipun tidak terlalu berbeda dengan definisi-definisi di atas, ia  memasukkan kaitan  bahasa sebagai bentuk budaya. Ia menyatakan  bahwa  Language is a system of arbitrary, vocal sumbols which permits all peaple in a given culture, or other peaple who have learned the system of  the culture, to communicate or to interact.
Dari sudut pandang psikologi, karena bahasa itu sebuah sistem simbol terstruktur, maka bahasa bisa dipakai sebagai alat berpikir, merenung, bahkan untuk memahami segala sesuatu. De Vito menyatakan bahwa bahasa adalah  A potentially self-refleksive, structired system of symbols which catalog the objects, events, and relation in the world .
Dengan melihat deretan definisi tentang bahasa di atas, dapat disimpulkan bahwa cukup banyak dan bervariasi definisi tentang bahasa yang bisa kita temui. Variasi itu wajar  terjadi karena sudut pandang keilmuan mereka yang juga berbeda. Meskipun demikian,  variasi tersebut terletak pada penekanannya saja, akan tetapi hakikatnya sama.  Ada yang menekankan bahasa pada fungsi komunikasi, ada yang mengutamakan bahasa sebagai sistem,  ada pula yang memposisikan bahasa sebagai alat. Meskipun demikian, ada persamaan dalam hal-hal prinsip, yang oleh Alwasilah (1993: 82-89) disebut dengan hakikat bahasa, sebagaimana akan dijelaskan dalam uraian berikut ini.

2. Hakikat Bahasa
a)      Bahasa itu sistematik,
Sistematik artinya beraturan atau berpola. Bahasa memiliki sistem bunyi dan sistem makna yang beraturan. Dalam hal bunyi, tidak sembarangan bunyi bisa dipakai  sebagai suatu simbol  dari suatu rujukan (referent) dalam berbahasa. Bunyi mesti diatur sedemikian rupa sehingga terucapkan.  Kata pnglln tidak mungkin muncul secara alamiah, karena tidak ada vokal di dalamnya.  Kalimat  Pagi ini Faris pergi ke kampus, bisa dimengarti karena polanya sitematis, tetapi kalau diubah menjadi  Pagi  pergi ini kampus ke Faris  tidak bisa dimengarti karena melanggar sistem.
Bukti lain, dalam struktur morfologis bahasa Indonesia, prefiks me- bisa berkombinasi dengan dengan  sufiks –kan dan –i seperti pada kata membetulkan dan menangisi. Akan tetapi tidak bisa berkombinasi dengan ter-. Tidak bisa dibentuk kata mentertawa, yang ada adalah mentertawakan atau tertawa. Mengapa demikian ? Karena bahasa itu beraturan dan berpola.

b)      Bahasa itu manasuka (Arbitrer)
Manasuka  atau arbiter adalah acak , bisa muncul tanpa alasan. Kata-kata (sebagai simbol) dalam bahasa  bisa muncul tanpa hubungan logis dengan yang disimbolkannya.  Mengapa makanan  khas yang berasal dari Garut itu disebut dodol bukan dedel atau dudul ? Mengapa  binatang panjang kecil berlendir itu kita sebut cacing ? Mengapa tumbuhan kecil itu disebut rumput, tetapi mengapa dalam bahasa Sunda disebut jukut, lalu dalam bahasa Jawa dinamai suket ? Tidak adanya alasan kuat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas atau yang sejenis dengan pertanyaan  tersebut.
Bukti-bukti di atas menjadi bukti bahwa bahasa memiliki sifat arbitrer, mana suka, atau acak semaunya.  Pemilihan bunyi dan kata dalam hal ini benar-benar sangat bergantung pada konvensi atau kesepakatan pemakai bahasanya.  Orang Sunda menamai suatu jenis buah dengan sebutan cau, itu terserah komunitas orang Sunda, biarlah orang Jawa menamakannya gedang, atau orang Betawi menyebutnya pisang.
 Ada memang kata-kata tertentu yang bisa dihubungkan secara logis dengan benda yang dirujuknya seperti kata  berkokok untuk bunyi ayam, menggelegar untuk menamai bunyi halilintar, atau mencicit untuk bunyi tikus. Akan tetapi, fenomena seperti itu hanya sebagtian kecil  dari keselurahan kosakata dalam suatu bahasa.

c)      Bahasa itu vokal
Vokal dalam hal ini berarti bunyi.  Bahasa mewujud dalam bentuk bunyi.  Kemajuan teknologi dan  perkembangan kecerdasan manusia memang telah melahirkan bahasa dalam wujud tulis, tetapi sistem tulis tidak bisa menggantikan ciri bunyi dalam bahasa.  Sistem penulisan hanyalah  alat untuk menggambarkan arti di atas kertas, atau media keras lain. Lebih jauh lagi, tulisan berfungsi sebagai  pelestari ujaran. Lebih jauh lagi dari itu,  tulisan menjadi pelestari kebudayaan manusia. Kebudayaan manusia purba dan manusia terdahulu lainnya bisa kita prediksi karena mereka meninggalkan sesuatu untuk dipelajari. Sesuatu itu antara lain berbentuk tulisan.
Realitas  yang  menunjukkan bahwa bahwa bahasa itu  vokal mengakibatkan telaah tentang bahasa (linguistik) memiliki cabang kajian  telaah bunyi yang disebut dengan istilah fonetik dan fonologi.

d)      Bahasa itu simbol
Simbol adalah lambang sesuatu,  bahasa juga adalah lambang sesuatu. Titik-titik air yang jatuh dari langit diberi simbol dengan bahasa dengan bunyi  tertentu. Bunyi tersebut jika ditulis adalah hujan.  Hujan adalah simbol linguistik yang bisa disebut kata untuk melambangkan titik-titik air yang jatuh dari langit itu.  Simbol bisa berupa bunyi, tetapi bisa berupa goresan tinta  berupa gambar di atas kertas.  Gambar adalah bentuk lain dari simbol.   Potensi yang begitu tinggi yang dimiliki bahasa untuk menyimbolkan sesuatu  menjadikannya  alat yang sangat berharga bagi kehidupan manusia. Tidak terbayangkan bagaimana jadinya jika  manusia tidak memiliki bahasa,  betapa sulit mengingat dan menkomunikasikan sesuatu kepada orang lain.

e)      Bahasa itu mengacu pada dirinya
Sesuatu disebut bahasa jika ia mampu dipakai untuk menganalisis bahasa itu sendiri.  Binatang  mempunyai bunyi-bunyi sendiri  ketika bersama dengan sesamanya, tetapi bunyi-bunyi yang meraka gunakan tidak bisa digunakan untuk  membelajari bunyi  mereka sendiri. Berbeda dengan halnya bunyi-bunyi yang digunakan oleh manusia ketika berkomunikasi. Bunyi-bunyi yang digunakan manusia bisa digunakan untuk menganalisis bunyi itu sendiri. Dalam istilah linguistik, kondisi seperti itu disebut dengan metalaguage, yaitu bahasa bisa dipakai untuk  membicarakan bahasa itu sendiri.  Linguistik menggunakan bahasa untuk menelaah bahasa secara ilmiah.

f)       Bahasa itu manusiawi
Bahasa itu manusiawi dalam arti bahwa  bahwa itu adalah kekayaan yang hanya dimiliki umat manusia.  Manusialah yang berbahasa  sedangkan hewan dan tumbuhan tidak.  Para hali biologi telah membuktikan bahwa berdasarkan sejarah evolusi,  sistem komunikasi binatang  berbeda dengan sistem komunikasi manusia, sistem komunikasi binatang tidak mengenal ciri bahaya manusia sebagai sistem bunyi dan makna. Perbedaan itu kemudian menjadi pembenaran menamai manusia sebagai  homo loquens  atau  binatang yang mempunyai kemampuan berbahasa. Karena sistem bunyi yang digunakan dalam bahasa manusia itu berpola makan manusia pun disebut homo grammaticus, atau hewan yang bertata bahasa.

g)      Bahasa itu komunikasi
Fungsi terpenting dan paling terasa dari bahasa adalah  bahasa sebagai alat komunikasi dan interakasi. Bahasa berfungsi sebagai  alat memperaret antar manusia dalam komunitasnya, dari komunitas  kecil seperti keluarga, sampai komunitas besar seperti negara. Tanpa bahasa tidak mungkin terjadi interaksi harmonis antar manusia, tidak terbayangkan bagaimana bentuk kegiatan sosial antar manusia tanpa bahasa.
Komunikasi mencakup makna  mengungkapkan dan menerima pesan, caranya bisa dengan berbicara, mendengar, menulis, atau membaca. Komunikasi itu bisa beralangsung dua arah, bisa pula searah. Komunikasi tidak hanya  berlangsung antar manusia yang hidup pada satu jaman, komunikasi itu bisa dilakukan antar manusia yang hidup pada jaman yang berbeda, tentu saja  meskipun hanya satu arah. Nabi Muhammad SAW telah meninggal  pada masa silam, tetapi ajaran-ajarannya telah berhasil dikomunikasikan kepada umat manusia pada masa sekarang.  Melalui buku, para pemikir sekarang bisa mengkomunikasikan pikirannya kepada para penerusnya yang akan lahir di masa datang.  Itulah bukti bahwa bahasa menjadi jembatan komunikasi antar manusia.
h)     Bahasa itu adalah bunyi
Kata bunyi berbeda dengan kata suara. Menurut Kridaklaksana (1983:27) bunyi adalah pesan dari pusat saraf sebagai akibat dari gendang telinga yang bereaksi karena perubahan-perubahan dalam tekanan udara. Karena itu, banyak ahli menyatakan bahwa yang disebut bahasa itu adalah yang sifatnya primer, dapat diucapkan dan menghasilkan bunyi. Dengan demikian, bahasa tulis adalah bahasa skunder yang sifatnya berupa rekaman dari bahasa lisan, yang apabila dibacakan/dilafalkan tetap melahirkan bunyi juga. Sebagai bunyi, bahasa berfungsi untuk menyampaikan pesan lambang dari kebahasaan sebagaimana disebutkan di atas bahwa bahasa juga bersifat lambang.
  1. Bahasa itu bermakna
Bahasa sebagai suatu hal yang bermakna erat kaitannya dengan sistem lambang bunyi. Oleh sebab bahasa itu dilambangkan dengan suatu pengertian, suatu konsep, suatu ide, atau suatu pikiran, yang hendak disampaikan melalui wujud bunyi tersebut, maka bahasa itu dapat dikatakan memiliki makna. Lambang bunyi bahasa yang bermakna itu, dalam bahasa berupa satuan-satuan bahasa yang berwujud morfem, kata, frasa, klausa, kalimat, dan wacana.
  1. Bahasa itu unik
Bahasa dikatakan memiliki sifat yang unik karena setiap bahasa memiliki ciri khas sendiri yang dimungkinkan tidak dimiliki oleh bahasa yang lain. Ciri khas ini menyangkut sistem bunyi, sistem pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat dan sistem-sistem lainnya. Di antara keunikan yang dimiliki bahasa bahwa tekanan kata bersifat morfemis, melainkan sintaksis. Bahasa bersfiat unik berfungsi untuk membedakan antara bahasa yang satu dengan lainnya.
  1. Bahasa itu universal
Selain unik dengan ciri-ciri khas tersendiri, setiap bahasa juga dimungkinkan memiliki ciri yang sama untuk beberapa kategori. Hal ini bisa dilihat pada fungsi dan beberapa sifat bahasa. Karena bahasa itu bersifta ujaran, ciri yang paling umum dimiliki oleh setiap bahasa itu adalah memiliki vokal dan konsonan. Namun, beberapa vokal dan konsonan pada setiap bahasa tidak selamanya menjadi persoalan keunikan. Bahasa Indonesia misalnya, memiliki 6 buah vokal dan 22 konsonan, tetapi bahasa Arab memiliki 3 buah vokal pendek, 3 buah vokal panjang, serta 28 konsonan (Al-Khuli, 1982:321). Oleh sifatnya yang universal ini, bahasa memiliki fungsi yang sangat umum dan menyeluruh dalam tindakan komunikasi.
  1. Bahasa itu bervariasi
Setiap masyarakat bahasa pasti memiliki variasi atau ragam dalam bertutur. Bahasa Aceh misalnya, antara penutur bahasa Aceh bagi masyarakat Aceh Barat dengan masyarakat Aceh di Aceh Utara memiliki variasi. Variasi bahasa dapat terjadi secara idiolek, dialek, kronolek, sosiolek, dan fungsiolek.
  1. Bahasa itu dinamis
Hampir di setiap tindakan manusia selalu menggunakan bahasa. Bahkan, dalam bermimpi pun, manusia menggunakan bahasa. Karena setiap tindakan manusia sering berubah-ubah seiring perubahan zaman yang diikuti oleh perubahan pola pikir manusia, bahasa yang digunakan pun kerap memiliki perubahan. Inilah yang dimaksud dengan dinamis. Dengan kata lain, bahasa tidak statis, tetapi akan terus berubah mengikuti kebutuhan dan tuntutan pemakai bahasa.
  1. Bahasa sebagai identitas diri
Bahasa juga dapat menjadi identitas diri pengguna bahasa tersebut. Hal ini disebabkan bahasa juga menjadi cerminan dari sikap seseorang dalam berinteraksi. Sebagai identitas diri, bahasa akan menjadi penunjuk karakter pemakai bahasa tersebut.
Sementara itu, Brown dan Yule (1996:1) berpendapat bahwa bahasa itu dapat berfungsi sebagai pengungkapan isi yang dideskripsikan menjadi fungsi transaksisional dan sebagai pengungkapan hubungan sosial dan sikap-sikap pribadi yang dideskripsikannya menjadi fungsi interaksional.

D.  Rangkuman
Pengertian bahasa sangat bergantung pada dari sisi apa kita melihat bahasa.  Dalam pengertian umum bahasa diartikan sebagai  sistem lambang bunyi  berartikulasi  yang bersifat arbitrer dan  alat komunikasi .
 Para ahli  linguistik maupun komunikasi  mengartikan bahasa sebagai suatu sistem tanda atau  lambang bunyi yang arbitrer, yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat  untuk bekerja sama, berinteraksi,  dan mengidentifikasikan diri.
Meskipun definisi tentang bahasa redaksinya dan penekanannya berbeda, tetapi ada ciri-ciri umum yang bisa menggambarkan hakikat bahasa.
 Ciri-ciri yang menjadi hakikat bahasa itu adalah  bahwa bahasa itu sistematik, beraturan atau berpola;  bahasa itu manasuka (Arbitrer), manasuka  atau acak ; bahasa itu vokal atau bahasa itu merupakan sistem bunyi; bahasa itu symbol; bahasa itu mengacu pada dirinya;  bahasa itu manusiawi;  dan  bahasa itu komunikasi

Pengertian Masyarakat
Masyarakat ( society) adalah suatu sistem dari kebisaan dan tata cara dari wewenang dan kerja sama antara berbagai kelompok dan penggolongan, dari pengawasan tingkah laku serta kebebasan-kebebasan manusia. Menurut Raplh Linton masyarakat merupakan sekelompok manusia yang hidup yang telah lama dan bekerja sama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas.